Si Kecil Sejuta Mimpi

"Cita-cita aku mau jadi dokter" ucapku ketika masih duduk di bangku TK
"Aku nanti mau jadi dokter gigi deh" ucapku ketika masih duduk di bangku SMP
"Aku masuk Pendidikan Teknik Arsitektur aja kali ya mah,pa?" Ucapku ketika hampir menyelesaikan masa SMA.

Cita-cita saya dari kecil beragam. Hingga detik ini pun saya masih memiliki cita-cita yang sangat banyak. Setiap individu di dunia ini pun pastinya memiliki cita-cita. Entah itu dokter, pilot, polisi, tentara,dan lain-lain. Arti dari cita-cita sendiri yaitu impian dan harapan seseorang di masa depan. Dimana kita dapat mendorong semangat untuk terus maju dengan langkah yang jelas di kehidupan ini. Dan bagi saya, cita-cita adalah rancangan bangunan kehidupan seseorang, bangunan yang tersusun dari perencanaan gambar, pondasi, bata, semen ilmu dan pasir potensi diri. Bagaimana jadinya nanti jika kita memiliki Beribu batu bata, berpuluh karung semen, dan berkubik pasir serta bahan bangunan yang lain untuk membuat rumah namun tidak ada gambaran rancangan untuk membangun rumah?
Alhasil bentuk rumah menjadi aneh, mudah rubuh, atau bahkan rumah tidak bisa dibangun dengan baik.

Berbicara mengenai cita-cita, banyak sekali cita-cita yang saya miliki, mulai dari ingin memiliki bisnis properti rumah, menjadi seorang konsultan arsitek, dosen, rektor, guru, menteri pendidikan, dan semua yang berkaitan dengan pendidikan. Mengapa harus pendidikan? Karena saya sangat perihatin dengan pendidikan di Indonesia ini. Negara yang terkenal akan kekayaan alam, rempah-rempah, budaya, bahasa,dan lain-lain, akan sangat disayangkan apabila kita sebagai rakyat belum bisa mengelola sumber daya dengan baik akibat keterbatasan pendidikan yang hanya bisa kita dapatkan sampai SD,SMP atau bahkan SMA saja. Adapun kendala pendidikan yang masih terjadi hingga saat ini yaitu keterbatasan akses, jumlah guru yang belum merata,serta kualitas guru itu sendiri yang masih kurang. Oleh karena itu, orangtua saya menyarankan setelah lulus di S1 Pendidikan Teknik Arsitektur ini saya bekerja sebagai guru SMK atau lebih baik melanjutkan studi S2 untuk menjadi dosen.

Saya terlahir dari seorang yang berkecukupan. Bapak saya seorang pedagang bubur ayam yang hanya bisa mencari rezeki di pagi hari,itupun kalau cuaca sedang tidak hujan. Dan ibu saya seorang ibu rumah tangga yang membesarkan 4 orang anak. Kakak saya sedang menunggu sidang skripsi dan kedua adik saya masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Saya sangat perihatin dengan kondisi keluarga saya, dimana perbulan bapak hanya dapat penghasilan kurang lebih Rp.5.000.000 untuk membiayai seorang istri dan keempat anaknya. Belum lagi lokasi kampus saya yang harus menyeberangi pulau Kalimantan.

Dulu saya hanya seorang anak kecil yang sempat marah dan iri kepada teman-teman yang bisa memiliki apa yang mereka inginkan dan saya harus berusaha untuk mendapatkannya dikarenakan faktor ekonomi keluarga yang tidak seperti mereka. Namun, seiring waktu berjalan, dengan kemarahan itu menimbulkan rasa ingin sekali saya menjadi pelopor untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Mulai dari berjualan makanan ringan saat SD, menjadi reseller saat SMP hingga berjualan masker kecantikan saat SMA demi mendapatkan tambahan uang jajan.

Berada di lingkungan Pendidikan Teknik Arsitektur saat ini tentu tidak mudah bagi saya. Karena segala sesuatu mulai dari alat menggambar, bahan maket, dan lain-lain, memerlukan jumlah pengeluaran yang tidak sedikit. Untuk meminta uang tambahan ke orangtua pun malu rasanya. Hingga saya berinisiatif untuk menjadi reseller alat menggambar arsitek demi mendapatkan itu semua. Orangtua saya pun tentunya bangga dengan kemandirian saya dengan meringankan pengeluran mereka, dan mereka menyarankan saya untuk mencari beasiswa. Namun, menurut saya,kuliah tidak hanya sebatas belajar dan berbisnis saja, pengalaman dalam berorganisasi pun harus bisa kita dapatkan. Untuk dapat membangun jiwa yang dapat bekerja sama,saling menghargai,serta dapat membangun jiwa sosial yang lebih tinggi. Dan Alhamdulillah, saat ini saya telah menduduki jabatan sebagai Staff Kesekretariatan di dalam himpunan saya.

Merasa kurang puas untuk mendapatkan pengalaman dari organisasi,bulan November 2018 kemarin,saya keterima untuk menjadi volunteer/sukarelawan dalam kegiatan Festival Beasiswa Nusantara yang di adakan di gedung DPR/MPR RI. Karena lembaga yang mengadakan acara ini pun memiliki satu misi dengan saya yaitu memajukan pendidikan untuk Indonesia agar masyarakatnya pun tidak buta dengan pendidikan yang telah di dukung oleh lembaga beasiswa yang tersebar luas di dalam maupun luar negeri. Dan sekarang pun, saya bergabung di dalam kepanitiaan World International Scholarship di tahun 2019 ini yang berlokasi di daerah Bandung.

Saya bersyukur, Beasiswa Baituzzakah Pertamina (Batch V) dibuka untuk kampus UPI,karena dengan itu saya bisa mendaftarkan diri untuk mengajukan beasiswa seperti saran kedua orangtua saya. Dan saya sangat berharap untuk dapat keterima,karena saya memiliki cita-cita untuk mendapatkan beasiswa saat kuliah hingga jenjang pendidikan S3. Dan demi meringankan beban kedua orangtua saya dengan beasiswa yang saya dapatkan untuk membantu biaya sekolah adik-adik saya, serta kebutuhan kuliah saya. Dan saya rasa saya pantas untuk mendapatkannya. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan,bukan apa yang kita inginkan.

Terimakasih telah membaca :)
Semoga bermanfaat dan termotivasi.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

EDUKASI DAN MITIGASI COVID-19 UNTUK MASYARAKAT KELURAHAN TANAH GROGOT, KALIMANTAN TIMUR